dn

Kamis, 20 Februari 2014

Proses Karya Seni Terapan


Seni Rupa Tiga Dimensi
Tas Dari Kardus

A. Alat dan Bahan :
              1. Kardus bekas
.                    2. Kertas Kado
.                    3. Tali Rapia
                      4. Jarum Kasur
                      5. Lem


B. Cara Membuat :
1.      Gunting kardus sebanyak 5 bagian untuk kanan, kiri, depan, 
      belakang, bawah untuk dibuat tas.
2.      Jahit semua pinggiran sisi dengan menggunakan tali rafia dan  
       jarum ,kasur. 

           















3.       Setelah ke 5 sisi kardus telah terjahit, masing2 sisi 
                disatukan dengan cara dijahit



         4.        beri lubang pegangan dan beri tali. 
         5.       Jadilah dan siap digunakan.

    














 Ketua : Putri Anggraeni
Anggota : Indri Anggraeni
                Melinda Marsella
                Riksa Safarina
                Nende Suryani
Kelas : X Farmasi 2

 

Senin, 03 Februari 2014

Tugas 4/Seni Budaya Kls X /Sem 2 -2014 /Farmasi 1 sd.4 dan Tkj 1 dan 2

Seni rupa terapan


Menurut Zoet Mulder dalam kamus jawa kuno – indo {1995-520}, kata kriya berasal dari bahasa sankerta yang artinya pekerjaan, atau kerajinan tangan.

Pendapat Rasjoyo yaitu seni yang bertujuan menyajikan kebutuhan hidup sehari-hari. Kemudian Ia menambahkan, Seni kriya adalah karya pertama (sample), sedangkan karya berikutnya menjadi benda kerajinan. Seni kriya juga di artikan sebagai suatu karya seni yang penekanan pekerjaannya pada tangan (keterampilan tangan).

Dari revolusi industri di inggris pada abad 18, muncullah seorang Bapak kriya modern yang sangat ahli dalam industri yaitu “WILLIAM MORES dan temannya  “JOHN RUSKIN. Seni kriya sebenarnya tidak bisa lepas dari seni rupa, keduanya tumbuh dan berkembang dengan sejajar . kalau seni rupa menitik beratkan nilai estetika, maka seni kriya lebih mengutamakan segi fungsi (aplikasi).



Seni rupa terapan ( Fine Art ) adalah karya seni yang dirancang untuk tujuan fungsional,yaitu untuk memenuhi kebutuhan fisik dan psikologis (kejiwaan) manusia yang tidak hanya bisa di pandang keindahannya, namun juga dapat di pergunakan dalam kehidupan sehari-hari. 


Seni rupa terapan memiliki fungsi guna atau pakai. Artinya selain sebagai benda yang bernilai seni (artistik) juga sebagai benda yang indah (estetis) dan dapat digunakan untuk kepentingan manusia. Bentuknya berupa benda-benda pakai atau benda guna untuk kebutuhan manusia.

Contoh benda seni terapan antara lain benda-benda gerabah dari tanah liat, benda-benda anyaman, kerajinan keramik, peralatan rumah tangga,kerajinan kulit, kerajinan furniture

Contoh Karya anyaman Bahan Daur Ulang


Kerajinan tangan ini dapat kita kembangakan dengan Bahan Daur Ulang Ramah Lingkungan Misalnya bahan :  Kertas bekas , Pelapah pisang. Eceng gondok.Daun kering/basah ,Kain perca   ( Kain Bekas sisa tukang Jahit )dan lain sejenisnya.

Dari Referensi diatas kita dapat menciptakan seni kriya untuk kebutuhan sehari-hari sebagai pelengkap sarana belajar. Diawali benda apa yang kamu butuhkan ?, Buat desain kemudian pilihlah Bahan Daur ulang yang ramah lingkungan yang ada di sekitarmu, Nah ini yang mengasikan. Proses pembuatannya Ok , Selamat mencoba

Ingat : Kreatif dan inovasi akan menghasilkan Krya Murni (ciptaan sendiri)

Quiz : Komen ?.  
Tunjukan Karyamu dan lengkapi Deskripsi dan langkah proses kerjanya .!


Jumat, 24 Januari 2014

Seni Budaya Kelas X sem 2 2014

Tugas II: Kelas X KeahlianTkj 1 dan 2,Farmasi 1 sd.4


Aliran atau gaya Dalam Seni Lukis


Aliran atau gaya dalam seni rupa dibedakan berdasarkan prinsip pembuatannya. Kemunculan suatu gaya atau kreativitas dalam rangka mendapatkan keunikan bisa relatif bersamaan atau meneruskan gaya sebelumnya secara selaras atau bertentangan. Seorang seniman seni rupa dalam proses perkembangannya bisa saja berkreasi lebih dari satu gaya.
Aliran atau gaya dalam seni rupa yaitu:
1. Realisme (1800-an)
Aliran ini memandang dunia sebagai sesuatu yang nyata. Lukisan adalah sejarah bagi zamannya. Pelukis/pembuat karya seni bekerja berdasarkan kemampuan teknis dan realitas yang diserap oleh indera penglihatannya. Fantasi dan imajinasi harus dihindari.
Namun, pada perkembangannya terjadi dua kecenderungan. Ada yang memilih objek yang bagus/enak dilihat, ada pula yang memilih objek yang jelek/tidak enak dilihat (kumuh, mengerikan). Dari aliran ini berkembang aliran:
  • Realisme Cahaya: Impresionisme.
  • Realisme Baru/Sosial: Menggunakan objek dampak industri di perkotaan.
  • Realisme Fotografis: Dikaitkan dengan keberadaan dan kekuatan untuk menyamai hasil fotografi yang sangat detail dalam menangkap objek.
Tokohnya: Annibale Carracci, Gustave Courbert, Theodore Chasseriau, Thomas Couture.





















2. Naturalisme
Aliran ini dianggap bagian dari realisme yang memilih objek yang indah dan membuai saja, secara visual seperti objek aslinya (fotografis).
Dalam perkembangannya cenderung memperindah objek secara berlebihan.
Tokoh: Rembrandt, George Cole, John Constable, Luis Alvarez Catala, William Callow, Paul Alfred Curzon.














3. Romantisme (1818)
Aliran ini mengembalikan seni pada emosi yang lebih bersifat imajiner. Awalnya melukiskan kisah atau kejadian yang dramatis ataupun aktualitas piktorialnya selalu melebihi kenyataan. Warna lebih meriah, gerakan lebih lincah, emosi lebih tegas.
Tokohnya: Theodore Gericault, Eugene Delacroix
















4. Impresionisme/Realisme Cahaya/Light Painting (1874)
Aliran yang menggunakan konsep melukiskan berdasarkan usaha merekam efek atau kesan cahaya yang jatuh/memantul pada suatu objek/benda, sehingga menghindari garis atau kejelasan kontur. Cahaya yang dimaksud terutama berasal dari matahari yang memiliki banyak spektrum warna. Cara melukisnya harus cepat karena cahaya matahari yang terus bergerak/berubah dan dipengaruhi oleh cahaya. Hal ini bisa membuat lukisan hanya selintas/tidak detail.
Tokohnya: Claude Monet, Aguste Renoir, Camille Pissarro, Paul Cezane.
Selanjutnya aliran ini berkembang menjadi Post Impresionis. Ini bukan aliran, melainkan kelompok untuk menamai karya-karya pelukis yang mengembangkan perenungan problem cahaya dengan lebih mendalam, sehingga mencari jalan sendiri-sendiri.
Mereka menggabungkan keindahan alam dengan keindahan seni. Untuk itu harus mengubah dulu unsur-unsurnya menjadi sesuatu yang lebih mengena. Misalnya Henri Rosseau mengupayakan efek cahaya dengan stilasi. Paul Signac atau George Seurat dengan kesabarannya membuat titik-titik warna yang bervariasi dan berdekatan sehingga menimbulkan efek/kesan warna yang baru (Pointilisme). Vincent van Gogh mengembangkan teknik ini secara ekspresif dengan menggunakan teknik variasi garis-garis pendek berwarna.



















5. Ekspresionisme (1900-an)
Aliran ini berusaha mengekspresikan aktualitas bukan hanya berdasarkan indera penglihatan, tetapi juga dengan pengalaman batin. Luapan perasaan berupa kesedihan atau tekanan batin lainnya yang mengalir deras menyebabkan kebebasan teknik dalam melukiskannya, sehingga cenderung terjadi distorsi dan sensasi.
Kesempurnaan bentuk objek yang biasa dilakukan berdasarkan pengamatan secara visual tidak lagi menjadi pertimbangan estetika.
Tokohnya: Edward Munch, Ernst Barlach.




















6. Fauvisme (1900-an)
Aliran yang dipelopori oleh sekelompok seniman muda untuk membebaskan diri dari batasan aliran sebelumnya, sehingga mendapat julukan Les Fauves (binatang jalang) dari kritikus Prancis Louis Vauxcelles. Julukan tersebut malah dijadikan nama aliran mereka. Namun, aliran ini tidak bertahan lama.
Aliran ini menekankan pada penggunaan garis kontur yang tegas dan berusaha mengembalikan warna pada peranannya yang mutlak (tidak harus sesuai kenyataan). Dasarnya adalah kegemaran melukis apa saja tanpa memikirkan isi dan maknanya.
Tokohnya: Henri Matisse, Andre Derain, George Rouault, Maurice de Vlaminck.

















7. Kubisme (1907)
Aliran ini menyederhanakan bentuk-bentuk alam secara geometris (segitiga, segi empat, lingkaran , oval, silinder, bola, kerucut, kubus, balok) dengan intuisi dan rasionalitas.
Konsep dasarnya adalah menghadirkan tampilan secara serempak dan simultan berbagai bagian objek, baik yang dilihat dari depan atau belakang yang tampak atau tersembunyi. Tujuannya adalah untuk menunjukkan hubungan di antara bagian-bagian itu.
Tokohnya: Pablo Picasso, Max Beckman, Henri Moore, Fernand Leger, A. Archipenko, Juan Gris.
Selanjutnya berkembang menjadi dua konsep sebagai berikut.
8. Kubisme Analitis
Objek dianalisis, dipecah, dan dipandang dari berbagai sudut kemudian dilukis atau dibentuk sekaligus.













9. Kubisme Sintesis
Objek seakan-akan disusun dari bidang/bentuk yang berlainan, saling tumpah tindih sehingga membentuk tampilan yang unik.














10. Futurisme (1909)
Seniman futuris berpandangan bahwa derajat kehidupan dapat dicapai melalui aktivitas. Tema yang mengandung kesibukan dan kesimpangsiuran diangkat ke dalam karyanya dalam bentuk kesan keindahan gerak yang dinamis
Tokohnya: Umberto Boccioni, Carlo Carra, Giacomo Balla, Marchel Duchamp















11. Dadaisme (1916)
Istilah ini berasal dari bahasa anak-anak Perancis yang artinya kuda mainan. Aliran ini mendukung Surealisme karena muncul dari alam bawah sadar sebagai protes tidak adanya polarisasi nilai (baik/buruk) sosial dan etika akibat perang dunia.
Hal inilah yang menyebabkan karya Dadaisme memiliki ciri sinis, konyol, menggambarkan benda atau mesin sebagai manusia, mengikuti kemauan sendiri, dan menolak estetika dalam karyanya. Kolase adalah salah satu dari sekian teknik yang digunakan.
Tokohnya: Marchel Duschamp, Jean (Hans) Arp, Lazlo Mohoyi Nagy.





















12. Surealisme (1937)
Aliran ini dipengaruhi oleh teori psikoanalisis Sigmund Freud yang menyatakan bahwa alam pikiran manusia terdiri dari alam sadar (dalam kontrol kesadaran/ingatan) dan bawah sadar (tidak dalam kontrol kesadaran/terlupakan).
Dalam karya aliran ini, alam nyata dan keserbabisaan mimpi terpadu, sehingga  menampakkan kesan aneh atau fantastik. Selanjutnya terdapat dua kecenderungan, yaitu:
13. Surealisme Figuratif
Penampakannya masih realistik, meskipun tidak wajar, sehingga penguasaan teknik masih diperlukan. Tokohnya: Carlo Carra, Gino Severini, Giorgio de Chirico, Marc Chagal, Salvador Dali.





















  



14. Surealisme Abtraktisme
Sudah digayakan mendekati abstrak.Tokohnya: Joan Miro, Paul Klee, Wilfredo Lam. 















Selanjutnya terbagi lebih spesifik menjadi:

15. Color Field Painting
Menampilkan bidang-bidang yang relatif lebar berwarna. Tokoh: Francis Picabia, Ben Nicholson.




















16. Abtrakisme (1940-an)
Aliran seni yang menggambarkan sebuah bentuk yang tidak berwujud atau nonfiguratif. Sebenarnya kesan abstrak sudah nampak pada gaya Kubisme, Futurisme, atau Surealisme, tapi mereka memiliki perbedaan konsep yang mendasar
Dalam aliran ini karya yang ada terdiri dari susunan garis, bentuk, dan warna yang terbebas dari ilusi atas bentuk alam. Secara lebih umum Abtrakisme merupakan seni saat bentuk-bentuk di alam tidak lagi berfungsi sebagai objek atau tema, tetapi sebagai motif saja.
17. Abstrak Ekspresionisme/Non-Figuratif
Ekspresi gejolak jiwa yang digambarkan secara spontan dan abstrak. Tokoh: Ashile Gorky, Wassily Kandinsky, Roberto Matta. 
                        


                                                                                            
18. Konstruktivisme

Penganut aliran ini berusaha mengonstruksi bentuk tiga dimensi/trimatra yang abstrak menggunakan bahan bangunan modern dari besi, kawat, kayu, dan plastik. Tokoh: Vladimir Tatlin, Antonie Pevner, Naum Gabo, Alexander Calder, Max Bill.















19. Optical Art
Unsur yang dipakai adalah bentuk geometris yang berulang. Garis, bentuk,, dan warna diatur dengan akurasi yang tepat untuk memunculkan kesan tekstur atau ruang yang dapat mengelabu penglihatan. Mengutamakan kesan ilmiah dan kurang memperhatikan ekspresi. Tokoh: Victor Vasarely, Richard Anuszkiewicz.




 Dan Lainnya Masih Banyak Aliran/Gaya seni lukis ini sesui dinamika Manusia hingga kini.

Quiz :
Bagaimana Komentarmu Aliran/gaya Karya Seni Lukis ini ?